Kamis, April 03, 2008

Batam ooo Batam

Begitu turun di bandara Hang Nadim Batam, buru-buru aku ambil troli untuk mengangkut koperku dan teman-teman. Ups troli macet, rodanya gak mau bergerak, ambil troli yang lain macet juga. Setelah dipelototin beberapa saat, aku baru ngeh kalo ternyata troli di Batam lebih canggih daripada di Bandara lain di Indonesia. Trolinya punya mekanisme pengeraman, baru bisa jalan setelah menekan pegangan troli ke bawah. Jadi gak seperti troli di bandara lain yang kadang suka nyelonong sendiri kalo ditinggal di tempat yang tidak rata.

Pengembangan Pulau Batam terbagi dalam beberapa periode. Periode pertama yaitu tahun 1971-1976 dikenal dengan nama Periode Persiapan yang dipimpin oleh Dr.Ibnu Sutowo. Periode kedua adalah Periode Konsolidasi (1976-1978) dipimpin oleh Prof.Dr.JB.Sumarlin. Setelah itu adalah Periode Pembangunan Sarana Prasarana dan Penanaman Modal yang berlangsung selama 20 tahun. Yaitu tahun 1978-1998, yang diketuai Prof.Dr.BJ. Habibie. Kemudian sejak tahun 1998 sampai sekarang, dibawah kepemimpinan Ismeth Abdullah dinamakan Periode Pengembangan Pembangunan Prasarana dan Penanaman Modal Lanjutan. Pada masa kepemimpinan Habibie, tatakota Batam sangat teratur dengan pembagian lokasi-lokasi untuk perkantoran, industri, dan perumahan yang jelas dan terarah. Namun pada saat ini pembangunan bercampur baur tidak jelas lagi tergantung kemauan pemilik modal, bahkan tidak sedikit ruko yang setengah jadi mangkrak tidak terawat. Terlihat beberapa bangunan yang menjadi lanscape kota Batam seperti masjid raya Batam dan Jembatan Barelang yang kurang terawat, bahkan beberapa karet pelindung kabel baja pada jembatan Barelang hilang sehingga rawan korosi. Seperti biasa kita mampu membangun namun tidak mampu merawat.

Di kawasan Nagoya yang terkenal sebagai pusat belanja banyak hotel dengan tarif bervariasi dari kelas melati sampai bintang empat komplit dengan cewek-cewek yang memakai rok sejengkal di atas lutut. Tapi masih ada pilihan lain bagi warga muslim yang merasa khawatir dengan image dan makanan yang disediakan hotel, yaitu dengan menginap di Pusat Informasi Haji (PIH) di daerah Engku Putri. PIH yang terletak di dekat asrama haji dan masjid raya Batam menyediakan penginapan dan pelayanan sekelas hotel bintang tiga dengan tarif mulai 200ribuan permalam, fasilitas internet kecepatan tinggi disediakan bebas melalui hotspot yang bisa diakses di setiap lantainya. Sayangnya image Batam yang sebelumnya terkenal surga belanja sekarang mulai luntur karena harga-harga barang elektro dan fashion mulai naik tidak berbeda jauh dengan harga Jakarta. Tapi kalo mau cari sampah (barang bekas) Singapura masih banyak.

Sudah biasa kalau di warung padang piring disusun di tangan kanan dan kiri. Tapi di RM Bundo Kanduang Batam, 21 piring lauk disusun dalam bentuk piramid terbalik dan dibawa satu tangan. Banyak juga pujasera yang menyajikan beraneka ragam seafood di ruang terbuka ala hongkong, komplit dengan pelayannya yang berpakaian ketat. Hal ini ditunjang dengan cuaca Batam yang panas jarang hujan, meski disebagian pulau Jawa dan Sumatera sedang Banjir. Bagi yang ingin masakan khas melayu, bisa mencoba ikan sembilang asam pedas di daerah Tanjung Riau. Ikan sembilang mirip lele tapi hidup di laut.

Ada banyak lokasi wisata alam di Batam, antara lain jembatan Barelang, Pantai Melur, pulau Galang tempat kamp pengungsi Vietnam, patung raksasa Dewi Kwan Im di Tanjung Pinggir dan lain-lain. Yang pasti setelah tiga minggu di Batam badan tambah gendut dan makin item.

2 komentar:

Faradina mengatakan...

Dari duluuu... sampai sekarang aku belum bisa ke Batam. Padahal udah kepingin banget. Mudah2an nanti ada kesempatan. Do'ain ya.

Roni Fadly mengatakan...

eh pernah ke batam yah, boleh nanya dong kalo di batam katanya haraga alat2 elektronik kaya hp ato pc ato yang lainnya murah2, emang kalo harga laptop paling murah disana berapa 500ribu kali yah!!!!